Profil Kabupaten PATI

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–> <!–[endif]–>

Kabupaten Pati merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah secara geografis terletak di 644′56,80″ LS 11102′06,96″ BT dengan luas wilayah keseluruhan 1.419,07 km yang terbagi menjadi 21 Kecamatan dan 405 Desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Jepara dan Laut Jawa di sebelah utara, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora di sebelah selatan, Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara di sebelah barat, serta Kabupaten Rembang dan Laut Jawa di sebelah timur.

Potensi sumber daya alam Kabupaten Pati bisa diandalkan, Kabupaten yang berada di sebelah timur bagian utara Provinsi Jateng ini secara topografi, wilayahnya dibedakan menjadi dataran rendah, pegunungan, dan lereng gunung. Sektor pertanian memang masih menjadi tulang punggung ekonomi Pati terutama bahan tanaman pangan dan buah-buahan. Usaha agroindustri juga turut dikembangkan, tanaman sayur-sayuran juga tidak kalah dalam produksi, seperti bawang merah, jagung, kacang tanah, kacang hijau, hingga cabai banyak dibudidayakan di beberapa kecamatan.

Kacang tanah lebih untuk memenuhi kebutuhan pabrik-pabrik makanan dari kacang tanah seperti pabrik Garuda dan kacang Dua kelinci yang berada di Kabupaten ini. Tanaman perkebuan juga tumbuh subur, potensi hasil perkebunan yang cukup mencolok adalah produksi kelapa, juga perkebuan kopi yang berada di enam kecamatan yakni Gembong, Sukokilo, Tlogowungu, Margoyoso, Gunungwungkal, dan Cluwaak yang hasilnya antara lain dipasarkan ke beberapa industri pengolahan kpi di Kabupaten ini.

Wilayah Pati yang berbatasan dengan laut, sudah tentu mengandalkan perikanan, Kabupaten ini menjadi salah satu penghasil ikan di Jateng, terdapat jiga hasil tambak, produksi ikan terbesar dihasilkan dari budi daya tambak dengan lahan tambak terutama banyak tersebar di Kecamatan Juwana berupa petak-petak yang letaknya mendekati bibir pantai. Jenis ikan bandeng dan udang banyak dibudidayakan disini.

Selain ikan segar, banyak pula diusahakan ikan olahan dengan cara pengawetan atau pengeringan ikan menjadi ikan asin, ikan pindang, atau pun ikan asap.

Letak Pati memang strategis, berada di jalur padat laulintas antara Semarang-Surabaya ini membawa dampak yang cukup bagus bagi sektor perdagangan. Pemasaran komoditas pertanian, perikanan, dan hasil industri selain lewat pelabuhan yakni perdagangan antar pulau dan ekspor mancanegara juga melalui jalur darat untuk perdagangan antar kabupaten maupun antar provinsi.

sumber: http://regionalinvestment.

 

Profil kota pati

Kota Pati terletak di daerah Pantura (Pantai Utara) dekat dengan laut

utara pulau jawa. kota ini terdiri lebih dari 20 kecamatan, diantaranya

adalah kecamatan Gabus, Tambakromo, Winong, dan lainnya.

Kota Pati termasuk dalam eks karisidenan yang meliputi wilayah kudus,

jepara, blora. kota ini masih berada di wilayah propinsi Jawa Tengah.

kegiatan yang di lakukan masyarakat kota pati beragam, ada yang berprofesi

sebagai petani, nelayan, pns, buruh, ada juga masyarakat yang berprofesi

sebagai paranormal, bahhkan untuk profesi tersebut sudah di akui oleh

masyarakat indonesia, ataupun masyarakat dunia khususnya di asia.

Situs-situs peninggalan masyarakat terdahulu masih menyimpan misteri untuk

dapat di ungkapkan. hal ini terjadi karena dulunya wilayah pati merupakan

daerah kerajan majapahit dan mataram.

Sejarah kota Pati

Kota Pati pada zaman dahulu merupakan sebuah kerajaan sendiri, yang pada

waktu ini menjadi daerah kekuasaan majapahit, dan kemudian di ambil alih

oleh mataram.

Di kota Pati terdapat situs-situs peninggalan zaman kerajaan, diantaranya

Pintu Gerbang Majapahit

konon gerbang ini terjatuh ketika akan di bawa ke wilayah jawa timur yang

pada waktu itu menjadi pusat wilayah kerajaan majapahit.

Genuk Kemiri

Lokasi yang ditengarai bekas pusat pemerintahan Kadipaten Pati, sebelum

dipindahkan ke Kampung Kaborongan, Kelurahan Pati Lor hingga sekarang,

semula berupa tanah kosong yang banyak ditumbuhi pohon besar dan rumpun

bambu. Bagian depan masuk lokasi tersebut terdapat pohon beringin tua.

Kawasan itu mulai ditata dan diperindah, ketika masa Pemkab Pati dijabat

Bupati Sunardji. Selain dipasang tembok pembatas keliling, bekas bangunan

pendapa kabupaten juga dipindahkan ke lokasi tersebut, sehingga pada

setiap peringatan HUT Pati yang tiap tahun jatuh pada 7 Agustus, pendapa

berfungsi sebagai tempat malam tirakatan.

Di belakang sisi utara pendapa terdapat cungkup mirip sebuah makam. Di

dalam bangunan itulah terdapat sebuah genuk (tempayan) yang dikenal

sebagai Genuk Kemiri yang kondisinya sudah tidak utuh lagi karena pecah.

Di lokasi genuk itu, biasanya dijadikan tempat orang untuk ngalap berkah.

Pada sisi belakang pendapa terdapat makam tua yang diyakini warga sebagai

makam sesepuh Kemiri. Sejak dipindahkan bekas bangunan pendapa kabupaten,

tempat tersebut bila malam tidak gulita karena diberi penerangan listrik.

Selain itu, Balai Desa Serirejo juga sudah dipindahkan ke lokasi tersebut.

Pariwisata

Pariwisata di kota pati kebanyakan berupa keindahan yang di buat oleh alam

(dalam hal ini berupa goa) dan makam-makam yang di anggap keramat oleh

masyarakat sekitar. kekeramatan yang di padukan dengan unsur keindahan terktur dapat menarik minat wisatawan dari daerah pati sendiri atau bahkan dari luar kabupaten pati.

Obyek wisata yang sering di kunjungi oleh wisatawan ada tiga tempat,

diantaranya : Goa pancur yang berada di wilayah kecamatan Kayen, Goa Cerawang yang berada di desa Todanan wilayah kecamatan Puncak Wangi, dan

Goa Lowo yang berada di wilayah kecamatan TambakRomo.

dahulu Goa-goa tersebut masih rapi dan di kunjungi banyak wisatawan

sekarang jumlah wisatawan yang datang kesana hanya beberapa, dan

kebanyakan yang datang ke tempat tersebut mempunyai maksud dan tujuan yang lain dari pada hanya menikmati pemandangan alam dan bentuk-bentuk staklakmit saja. Goa-goa tersebut sekarang menjadi ajang untuk mendapatkan pencerahan (masyarakat sekitar menyebutnya “wangsit”).

Tempat wisata yang sekarang masih menarik minat wisatawan yaitu di pulau kecil di daerah kecamatan juwana, nama pulau tersebut adalah “Pulau Seperempat”. Pulau itu dinamakan tersebut karena bentuknya yang unik hanya berbentuk seperempat saja. Di pulau seperempat setiap tahunnya di adakan upacara ucapan syukur kepada Yang Berkuasa atas alam, upacara itu oleh masyarakat sekitar dinamakan “Sedekah Bumi”.

Makanan

GETUK RUNTING

Walaupun getuk bukan termasuk jajanan khas pati, namun cukup banyak

peminatnya. Di jalan Pati Tayu, kira kira 4 km dari kota Pati, tepatnya

Desa Runting, kita akan menemukan warung yang menjual getuk. Usaha

pembuatan getuk ini sudah ada sejak tahun 1960 yang lalu. Pelopornya Bpk.

Jaeman. Sekarang usahanya diteruskan oleh anaknya, Bpk. Suri. Ia dibantu

oleh istri dan kedua anaknya.

Sehari ia bisa menghabiskan sekitar 50 kg singkong matang yang ditumbuk

ampai halus. Getuk kemudian disajikan dengan taburan kelapa dan serundeng

atau kinca (sirup gula merah). Anda dipersilakan memilih salah satunya.

Kudapan ini pun tidak membuat Anda miskin karena per getuk, Anda cukup

mengeluarkan Rp 500

PUTU BUMBUNG

Sepanjang jalan Panglima Sudirman berjajar tukang-tukang putu bumbung.

Salah satunya mangkal di depan apotek Eka. Bpk. Sugiman sudah berjualan

putu bumbung sejak tahun 1976. Awalnya ia berkeliling kota menjajakan

dagangannya. Tetapi setahun kemudian, ia memutuskan mangkal di depan

apotek Eka. Apotek ini mengizinkan saya jualan di sini karena kata mereka,

kue putu bumbung buatan saya enak, kisahnya.

Putu bumbung Sugiman mulai dijual sejak pukul 17.00 sampai pukul 21.00.

Dalam sehari ia bisa menjual sekitar 250 buah kue putu. Untuk itu ia harus

menyediakan 6 kilogram beras yang ditumbuk jadi menir (tepung beras yang

kasar). Harga sebuah kue putu bumbung cuma Rp 200. Ukurannya cukup mini.

Karena Sugiman memakai bambu jenis tali (bagian pucuk). Ukuran bambu

berdiameter 3 cm.